11.
Sejarah
Jurnalistik di Dunia dan Di Indonesia
11.1 Sejarah Jurnalistik Dunia
Awal mulanya muncul jurnalistik dapat diketahui dari berbagai literatur
tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman
Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). “Acta Diurna”,
yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang),
diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat
kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers
Dunia”.
Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang
muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja
Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis
yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan
pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.
Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan
kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian
pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta
apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu
ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi)
untuk diketahui oleh umum.
Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para
“Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang
hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan
tanah dan para hartawan. Dari kata “Acta
Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal”
dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam
bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti
“hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata
“Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).
Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal
bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat
banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak
keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan. Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut,
Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air
dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting
pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan
dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai
surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.
Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan
penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut
sebagai kantor berita pertama di dunia. Sumber:
http://aulia.mylivepage.com/wiki/1923_General/1038_sejarah_jurnalistik_dunia
21.1.2.
Sejarah
Jurnalistik Indonesia
Awal mula lahirnya Jurnalistik dimulai sekitar 3000 tahun lalu. Terdapat
konsep dasar jurnalistik yaitu, penyampaian berbagai pesan, berita dan
informasi. konsep dasar tersebut berakar dari saat ketika itu Firaun, Amenhotep
III, di Mesir mengirimkan ratusan pesan kepada para perwiranya yang tersebar di
berbagai daerah provinsi untuk mengabarkan apa yang terjadi di pusat. Catatan
sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin
cetak oleh Johannes Gutenberg.
Media massa di Indonesia tumbuh dan berkembang secara unik, dibandingkan dengan negara lain, terutama bila dibandingkan dengan lahir dan tumbuhnya media massa di negara-negara barat dan AS. Media cetak di Indonesia lahir pada masa penjajahan Belandayaitu dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles (1744). Koran ini tentu saja dijalankan oleh manajemen dan jurnalis Belanda. kemudian lahirlah pers "pribumi", media cetak yang berkomunikasi dengan bahasa melayu atau bahasa daerah dan dipimpin oleh seorang pribumi. masuk dalam kategori ini adalah warta berita (1901) yang selain berbahasa melayu juga dicetak dalam bahasa latin. surat kabar lain yang lahir pada abad ke-19 meskipun telah dicetak dengan huruf latin dan berbahasa melayu tetapi umumnya masih di pimpim oleh orang-orang Belanda. Koran yang dipimpin oleh kaum pribumi ini merupakan cikal bakal "pers perjuangan" yaitu media cetak berbahasa Melayu yang menyiratkan cita-cita kemerdekaan dari penjajahan asing dalam kebijakan redaksionalnya.
Istilah pers perjuangan kembali populer setelah 17 Agustus 1945, yaitu
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi kemudian pihak Belanda (mencoba)
menjajah kembali bangs Indonesia. Pada era 1945-1946, koran-koran yang
membawakan suara bangsa Indonesia masih mendapat survive si tengah tekanan
pihak Belanda. Wartawan Indonesia H. Rosiwan Anwar adalah contoh
"sisa-sisa laskar panjang" yang mengalami sendiri masa-masa sulit
itu.
Konsistensi pers cetak semakin terlihat pada perjalanan bangsa ini, mulai dari era demokrasi liberal (1950-1959), demokrasi terpimpin (1959-1965), demokrasi pancasila (1965-1998) dan kini, serta era reformasi (1998-sekarang). Sumber : http://aky.ac.id/berita-125-sejarah-jurnalistik.html
Konsistensi pers cetak semakin terlihat pada perjalanan bangsa ini, mulai dari era demokrasi liberal (1950-1959), demokrasi terpimpin (1959-1965), demokrasi pancasila (1965-1998) dan kini, serta era reformasi (1998-sekarang). Sumber : http://aky.ac.id/berita-125-sejarah-jurnalistik.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar